Kamis, 15 Desember 2011

Suatu Pagi Di Sudut Kota Resik...

        Suatu hari , di sebuah sudut kota tasik yang resik. Ada kehampaan menyelimuti rasa seorang gadis yang berat melepas sebuah kepergian. Ada haru di sana, dan seribu kekhawatiran.Meski semuanya terasa biasa, karena memang tidak ada sesuatu yang special. Tapi entah mengapa, ada sesuatu yang aneh, rasa yang tak biasa, terus menelusup ke relung hati tanpa dia sadarai.  Terik pun semakin menambah rasa gundah dan resah dan menenggelamkan pikiran dalam lamunan yang panjang.

       " Assalamualaikum..... " tiba-tiba suara yang berat terdengar begitu ngebas nya. saking ngebasnya tanpa terasa seorah mendebarkan hati gadis itu. Ahhhh... terlalu lebay kali, fikirnya sendiri .

       " Wa... waalaikum salamm.. eehh... " gadis itupun menjawab dengan sedikit tergagap. Tanpa dia sadari seorang lelaki tinggi  berbaju lurik bertopi caping telah berdiri tepat di sampingnya dan menatap dengan dalamnya. Ya Alloh... Saking dalamnya tenggelam dalam lamunan, sampai-sampai tak sadar dengan keadaan sekelilingnya, gumamnya dalam hati.

       " Kenapa Dek.. ?? " laki-laki itu bertanya dengan senyumnya yang tetap tersungging. senyum yang teramat sahaja, sehingga tak dapat diartikan apa-apa.

       " Nggakk... cuman bete aja nunggunya. hehehehehe... " Gadis itupun menjawab dengan secukupnya.
       " Afwan Dek, A agak telat ya. kmren kan adek yang telat, sekarang giliran, hehhe.. bcanda ".

       Entahlah apa sebetulnya yang membuat gadis itu terburu-buru pergi ke sebuah terminal, sampe harus repot-repot meninggalkan jadwal siaran dan minta temen nya untuk tuker jadwal demi seseorang yang baru saja dia kenal. Etahlah sunguh sulit dijabarkan dengan rumus algoritma atau al jabar sekalipun. Padahal selama bebrapa tahun ini, gadis itu teramat cuek dengan yang namanya laki-laki, alergi tingkat tinggi. Walopun Ada beberapa orang berusaha mendekat gadis itu  cuma menanggapi sekedar pengganjal kalo dia sedang membutuhkan bantuan. Sebutlah seorang cowok yang berinisial  'T' kakak tingkatnya di kampus yang sangat gigih jatuh bangun mengejar cintanya.Yang bela-belain malem-malem bawain ice cream k studio , beliin boneka baju-baju , mengerjakan berbgai tugas tanpa diminta,  dan terakhir membelikan sebuah cincin yang dia  serahkan oleh bibi nya sendiri sebagai perwakilan keluarganya, gadis itu cuman bilang, " Mohon maaf saya tidak bisa menerima semuanya ", wlo pada akhirnya cincin itu tetep dia terima karena dipaksa. Pun perhatian dan setengah pernyataan melamar dari temen-temen SMP atau SMU nya, yang selalu ia anggap angin lalu dan dai abaikan. Bagi gadis itu , Sebuah perasaan tidak bisa dipaksakan, dan terlalu berharga, sehigga hanya akan dia berikan untuk seseorang yang sangat berharga dan tepat. Semua akan indah pada waktunya, tidak perlu memaksakan sebuah hubungan yang memang tidak dia inginkan. Sampe pada hari itu dia tertarik oleh sebuah kekuatan yang dia juga tidak bisa mengerti dan fahami. Entahlah.... Mungkin benar perkataan dari laki-laki yang dia temui kali ini, bahwa semua itu seperti mysteri Illahi, biarlah Alloh yang bicara untuk semua kejadian yang dialami. Pun ketika laki-laki itu terperanjat, mengetahui bahwa gadis yang didepannya itu adalah seorang penyiar yang sering dia titipin salam untuk gadis kecil yang bernama " Shafa " yang laki-laki itu juga belum perah bertemu dengannya. Bagi Laki-laki itu  Shafa dan Evi Shofia adalah person yang berbeda. Person yang sering membacakan setiap puisi dan pesan yang dia kirimkan via sms di sebuah station radio untuk gadis yang dia kenal dengan nama shafa. Gadis yang menjadi tempat bertukar pikran berbagai hal kehidupan selama satu bulan , dan dia baru bisa bertemu dengannya hari ini. Dan semua itu memang telah menjadi jalannya hingga sampai pada saat itu, di tempat itu, kutub-kutub magnet mempertemukan dalam sebuah perpisahan. Pertemuan yang tidak disengaja, pertemuan yang berdasar pada sebuah sms

        " Dek, Aa akan pulang hari ini, dan sebelum berangkat, Aa pengen bertemu denganmu Dek "
         
        Terik semakin membakar bumi resik siang itu. Samapai sebuah Bus berhenti tepat di depan mereka.

       " Dek, Bis nya udah dateng . Sebentar lagi aa berangkat. Makasi ya adek udah nyempetin dateng menuhin permintaan aa. Dan adek tau, adek cantik dengan busana muslim itu ". Laki-laki itu berkata sambil sambil menundukan tatapan matanya.

       Suara ngeBass laki-laki itupun kembali membuyarkan lamunan gadis itu . Ada sebuah rasa kembali menggelitik dan membuat hati gerimis. Seperti oase di padang pasir yang membuat rasa ini nyaman. Dan pujian itu cukup membuat gadis itu tersipu dalam merah yang merona. Seraya tersipu  gadis itu menjawab

       " Owwhh... yaa... yaa... euumm...iya itu bus nya dateng , yaaa.. sama-sama A ". dengan sedikit tergagap...
      " Yaaa... Aa berangkat dulu ya. Maaf aa tinggalin dulu. Sekali lagi makasi. awas tiati pulangnya. " kata laki-laki tiu sembari tetep melengkungkan senyumnya.
      " Yaaah... yaa.. sama2, take care !! "
      " Apa tuh take care?? maaf bahasa inggris waktu sekolah aa jeblok ".
      " Yaa.. tiati... " jawab gadis itu sambil manahan senyum.
      " Jaga diri, jaga hati... Assalamualaikum !!".

       Laki -laki itu pun menatap sekilas, lalu segera menunduk. Berbalik dan segera menggendongkan tas ransel ke punggungnya. Gadis itu menatap dari belakang, sampai punggung itu menghilang dari sebuah pintu. Sekilas terlihat laki-laki itu berhenti sejenak di pintu bis, menatap dan melemparkan senyum. Gadis itu hanya membalas dengan anggukan. Suara mesin mulai berbunyi, perlahan, Bus itupun pergi perlahan membawa sekumpulan manusi yang berangkat dengan berbagai tujuan dan kepentingan. Termasuk membawa sekeping hati yang entah apa arti sebenarnya buat dirinya. Bus itupun menghilang di sebuah belokan Dan Gadsi itu masih menatap dengan menyisakan berbagai perasaan yang sulit untuk diartikan. Tidak ada yang special, tapi mengapa ada sesuatu yang aneh tertinggal di sini, di hati gadis yang lagi-lagi hanya termenung. sampai sebuah angkot berhenti didepannya, mebuyarkan lamunan.

       " Neng, kota kota neng. ".
       Gadis itupun menoleh dan mengangguk. Seraya naik dan meninggalkan satu sudut kota resik yang terik.












                                                    


***   Rahasia Illahi itu perlahan terurai, dan tabir Mahadewi terkuak dengan indahnya...... ( * Incu Banten *)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar