Minggu ini adalah sesi ujian terberat bagiku. Betapa tidak, Alloh menakdirkan dua belahan jiwaku terkapar dalam waktu bersamaan. Sungguh sisi keperempuananku goyah, ketika tangan mungil itu harus menahan sakit , dirajam jarum suntik yang tak mau berkompromi. Tidak tanggung-tanggung 4 kali dalam sehari. Sungguh pengalaman yang baru bagiku selama menjadi ibu. Betapa aku harus menenangkan dan menghilangkan efect traumatik pada putri kecilku yang selalu ketakutan keitika perepmpuan-perempuan berseragam putih itu mengeuk pintu ruangan dan menghampirinya. Di sudut lain, Seorang laki-laki yang selama ini selalu dengan tangguhnya berada di depanku, mengantar dan melindungiku tergolek lemah akibat kecapean. Entah berapa puluh kali dia mengeluarkan kembali makanan dan obat yang ia minum. Terpaksa dilarikan ke IGD sekedar untuk cek lab trombosit, walau hasilnya negatif DB. Dan aku harus tetap kuat ditengah kekacauan ini.
" Mi, abi pengen pulang saja dulu untuk memulihkan kondisi. Bagaimanapun suasan Rumah sakit ini hanya membuat abi makin gak kuat. Apalagi melihat ummi bolak-bolak balik ngurusin oyya dan Aby. Biar abi merecovery diri dengan home treathment ". Dengan terbata dia berkata.
Akhirnya dengan penuh berat hati kami bersepakat mengantarkan suamiku ke rumah mertua. Meski berat karena harus meninggalkan dia dalam keadaan yang tidak sehat, tapi aku yakin ini yang terbaik sementara waktu. Biar kau bisa focus merawat putri kecil kami yang trombositnya terus menurun drastis dan semakin lemah. Perpisahan kamipun bak salah satu sciene di sebuah sinetron. Di atas kursi roda dia menatapku lekat , matanya basah seraya berbisik
" Titip oya ya Mi.... aby percayakan oyya kepada Ummi ".
Aku pun tak kuat menahan tangis yang segera pecah seraya memeluknya erat , betapa aku membutuhkan dia untuk bersandar, betapa kondisi ini hampir membuatku runtuh....... dengan terisak akupun mencium keningnya, seraya berbisik " Maafkan ummi ya Bi... tidak bisa mengurusi aby disaat aby butuh perawatan ummi. jangan banyak fikiran, istirahatlah di sana, Serahkan oyya ke ummi. Insyaalloh semua akan baik-baik saja ".
Perlahan kursi roda itu di dorong oleh petugas, Kakak dan kakak iparku sudah siap dengan tengtengan tas berisi perlengkapan baju dan semua kebutuhan suamiku. Aku menatap kursi roda itu, sampai akhirnya masuk lift dan hilang.
Di seuatu sudat kamar VIP A 4008, Mamah membuka tanganya , menyediakan dada untuk ku berlabuh. Sungguh teduh, betapa saat seperti ini keluarga adalah segalanya. Di titik ini, aku semakin mengerti arti Ibu untuk anaknya, dan arti anak untuk ibunya. Pelukan mamah, mampu memberiku energi yang luaarrr biasa, untuk aku tetap bisa berdiri, dan seperti itulah, aku harus tularkan energyku untuk putriku yang masih tergolek lemas. Perlahan aku tutup ruang kamar, menghampiri noura yang terbaring di ranjang pasien. Hening, hampa dan terasa kosong, sampai satu ketukan dar arah pintu mengaburkan kebisuan itu.
" Assalamualaikuam, Ibu nya Noura "
" Waalaikum salam , Iya saya Bu "
" Ini bu, mohon maaf sebelumnya, aya mau informasikan kondisi terakhir Noura. hasil cek lab tadi sore Trombosit noura 33rb, nah jam 9 nanti akan diambil darah lagi, dan kalau seandainya trombositnya drop lagi, hasil arahan dari dr. mahbub barusan by Phone, dengan berat hati terpaksa harus di bawa ke bandung".
" Apa Bu, harus ke bandung?? "
Seketika itupun kaki, tangan dan tubuhku serasa lemas, seperti lilin yang terbakar api hingga melelh. Tidak tau apa yang harus dilakukan selain memperbanyak istighfar.
" Iya betul Bu, tadi arahan dari dr, mahbub seperti itu. Tergantung hasil cek lab jam 9 malam ini. , kalau trombositnya bertahan insyaaaloh kami bisa pertahankan di sini, tapi kalau misalkan drop lagi terpaksa harus dibawa ke bandung, untuk transfusi trombosit".
PEnjelasan itu seperti badai tornado yang menghempaskanku ke pusaran kelimbungan yang teramat sangat. Betapa baru saja aku melepas suamiku dengan haru biru, dan sekarang harus mendengar kabar yang amat mengusik sisi keibuanku. Betapa semua kalidioskop itu bermunculan satu persatu. Betapa Alloh elah menitipkan putri kecilku di tanganku, namun kadang karena kesibukan aku terkadang cuek dan mengabaikan fungsiku, betapa aku belum bisa jadi ibu yang sempurna, betapa.. betapa......
Susterpun keluar, tianggal aku dn ibuku yang dirundum berbagai kekhawatiran yang tak terperi. Di tengah kelimbungan itu ibuku menguatkan ku
" vii... kuaaatt.. kuaaat... do"a indung mah mustajab, yukkk ngadu'a "
aku pun semakin terisak, terjatuh di pangkuan ibu
" Maahhh... iyaaaa... abdi dosa "
" Dosa naon??"
" Dosa yang kadang mengabaikan oyya.... oyya adalah titipan, abi masih sok tamelar, ditingalkeun kerja, atau kadang sibuk bales bbm pelanggan-pelanggan, Alloh bendu mah, mau ngambil lagi oyya.... "
" tong kitu vie, istigfar, sok solat, ngado"a, oyya insyaalloh moa nanaon. Yukkkk kita ngadu'a bareng...
Mamah nelpon Bapak, dan sodara-sodara lain untuk memohon do'a , Teteh sudah pulang dari mengantar suami, langsung ambil bagian nelpon semua kolega dia yang punya pesanten untuk minta do'a di pengajian2 dengan serentak. jam pun terus berlalu, seperti sembilu yang siap menghujamku di tengah harap yang entah seperti apa rupanya...... aku limbung, hanya Alloh tempatku bersandar kali ini, seraya mengakui semua kelalaianku selama menjadi ibu, seraya berdo"a untuk tidak mengambil amanah yang telah Beliau titipkan padaku, dan sujudku pun terus kulakukan di sela tasbih, dan istigfar... perlahan jam pun menujukan waktu yang kami tunggu. seorang petugas lab datang untuk mengambil darah . Pengambilan darah kali ini terasa lebih berat dari sebelum2nya, betapa pengambilan sample darah ini menjadi penentuan sekaligus harapan kami. Kami pun menunggu dengan tegang. Petugaspun segera keluar setelah mengambil samplenya. Jarum jam terus berjalan, menggerus kekuatanku sebagai ibu, dan akhirnya tepat jam 22.00 WIB, kamipun saya dipanggil. Aku lemas, tak mampu berdiri, akhirnya kakaku pun yang mewakili menuju tempat informasi suster. Entah apa keputusan malam itu, entah apa yang mereka obrolkan di ruang informasi. lamat-lamat aku lihat kakak perempuanku terlibat obrolan yang cukup serius di gagang telpon, entah dengan siapa, sampe akhirnya kakakupu datang menghampiri kami. Wajahnya agak berbinar, perlahan dia mengungkapkan
" Tenang ya viii..... Alloh masih sayang sama Evy, sama oyya, sama kita semua. Haisl cek lab barusan trombositnya stabil, naik malah. naik 50, dari 33.000, jadi 33.050. Barusan teteh konsul langsung dengan dokter mahbub by phone, dan beliau akan mengijinkan oyya untuk tetap di rawat di sini, walaupin sedikit, tapi kenaikan trombosit itu jadi pertanda sinyal titik terendah trombosit oyya sudah terlampaui. Tingal sekarang kita rayu oya untuk banyak makan, banyak minum, supaya trombositnya naik terus. udah evy tenang sekarang ya... berkat do'a kita semua, dan berkat pertolongan Alloh "
Saat itu.... aku langsung terduduk dan sujud, buih tornado yang sedari tadi mencengkramku perlahan menipis , langitpun terlihat kembali, ada bintang di sana, ada sinar, ada harapan.....
Alloh Maha segalanya, Maha membolak balikan keadaan sesuai dengan kehendak Nya. Betapa batas kehidupan dan kematian itu sangat tipis , dan sangat mudah untuk Nya .Sujud syukurku pada Mu Yaa Rabb..... yang lagi-;agi menunjukan kejaiban dan kasih sayang padaku...
Padaku... seorang ibu dan istri yang belum sempurna....
Seorang perempuan yang teramat sangat mencintai suami dan putrinya...
Perempuan yang teramat banyak dosa...
Perempuan yang hanya mahluk lemah yang tak berdaya.....
Terima kasih Engkau telah berikan ujian ini untuk ku....
Satu sesi dimana aku dibuat Termehek-mehek oleh Mu.....
Sungguhpun aneh ketika satu minggu aku harus berjibaku merawat anaku dengan beribu kekhawatiran...
Dengan tanpa didampingi suami yang selama ini selalu ada untuku.....
Namun pada akhirnya aku semakin mengerti tentang hidup...
Tentang arti kebersamaann...
Tentang cintaaa.. kasiiih... dari semua orang yang begitu care terhadapku....
Makasi Rabb.....
Makasi.....
Makasii.....