Jumat, 01 Oktober 2021

Adalah Aura

 Adalah Aura..

Gadis kecil yang terpeleset ketika hening

Terjatuh di buaian, memaknai cinta dan logika

Terbenam dengan rasa aneh yang tak sempat dia alami sebelumnya

Ada pertanyaan besar, yang bergelayut dibenaknya

Ketika harus memilih salah satu ,

Menimang rasanya, atau menaruh hormat atas aliran darahnya

Tak diceritakan lagi kenapa akhirnya dua duanya melesap sebelum sempat dipilih.


Adalah Aura...

Gadis kecil yang lugu dengan rasanya

Memapah sesautu yang tak akan pernah dia raih,

Tak kan pernah dia sentuh

Sampai terjatuh dan berdarah sendiri

Di sudut sepi yang tak satupun orang ketahui


Adalah Aura...

Gadis kecil yang terbuang di tengah peperangan

Tertinggal kereta ketika beruasa mengejar

Terlupa begitu saja tanpa ada yang memapah


Adalah Aura...

Gadis kecil yang tetap bernyanyi dalam guyuran hujan

Meloncat kegirangan seperti ingin berkata

Aku baik baik saja sepeninggal badai

Aku berlari di bawah gerimis

Tertawa dengan pelangi

Dan berdiri di bawah senja

Senja yang mengaburkan dunia

Dunia yang terus berjalan tanpa jeda dan koma.




Senin, 30 Agustus 2021

Bukan Untuk Diingat

Separuh bintang melepuh di keramaian
Seperti lilin yang tak kuasa mmenahan panas api hingga meleleh
Menembakan cahaya ke udara
Ke tujuh langit yang tak terbatas
Meninggikan tanah yang dipijak 
Memecah bebatuan yang terkubur jauh di tanah
Mengalirkan air yang seprti aliran darah dalam nadi

Ada hal yang tak bisa di tertawakan oleh semesta
Tentang takdir yang tertulis jauh jauh sebelum ruh mengembara di mayapada
Tentang jerami yang diam ketika terbakar 
Tentang lelehan coklat strawbery yang di hangatkan tempo hari
Tentang kesempatan yang terabaikan
Seperti lorong darai sebuah labirynt yang tak tentu ujungnya
Memerangkap pikiran yang berjalan dalam kerandoman
Memahami tentang sesuatu yang berjalan begitu saja
Bukan untuk di nikmati gerimisnya
Bukan untuk diikuti alur jejaknya
Bukan, bukan itu....
Sesuatu yang Bukan pada tempatnya
Sesuatu yang bukan untuk diingat




Senin, 20 Februari 2017

Tuan cinta

Cinta tak pernah beranjak dari tuannya
Dari rasa yang membuatnya serasa surga
Dari tangan yang menggengam erat
Dari mata yang menatap teduh
Dari bahu yang menguat penuh
Luruh

Cinta tak pernah berkedip dari tatapnya
Dari lirikan halus yang menghujam jantung
Dari tatap yang mengacak rasa
Dari kerling yang tercuri diam diam
Dari kedipan yang berkata iya
Saya


Cinta tak pernah pergi dari tuannya
Saat senja mulai merangkak pergi 
Meninggal lembayung yang tergantung di ujung Maghrib

Rabu, 01 Februari 2017

Perempuan Dalam Penantian

Perempuan itu terduduk....
Dalam harap yang tak pernah putus selama tiga puluh enam purnama
Melewati tiap pergantian purnama dengan harap cemas
Usianya sudah tidak muda,
Terlihat dari garis garis halus yang mulai bertengger di kulit wajahnya.
Tidak jelas memang, tetapi sesekali berkaca saja , kerutan itu mulai mengingatkan 
" Dia tidak muda lagi "

Perempuan itu tertunduk...
Dalam ribuan tasbih dan tahmid yang tak pernah putus selama tiga puluh enam purnama
Ada rasa takut tersirat dalam dadanya
Tidak kentara memang, tapi cemas itu seolah mengingatkan
" Dia tidak tenang lagi "

Perempuan itu bergerak.....
Dalam ratusan ikhtiar yang tak pernah putus selama tiga puluh enam purnama
Ada rasa was was di sana
Tidak jelas memang, tapi mata lelah dalam tatapan nya seolah mengingatkan
" Dia tidak sabar lagi "

Sampai....
Pada hari itu...
Hari dimana perempuan sudah mulai lelah mengejar mimpinya...
Hari dimana dia sudah lupa dengan apa yang diikhtiarkannya
Ketika tiga puluh enam purnama sudah mulai melesapkan rindunya
Sesuatu seolah mengingatkan 
" Mimpinya sudah bersemayam dalam rahimnya "

Perempuan itu bersorak....
Tenggelam dalam ratusan ribu Tahmid yang bukan akhir dari cinta
Dalam ratusan butir air mata yang ia bagi dengan penjaganya
Dalam dekapan hangat yang selalu menjadi tempat terindah selama seratus enam puluh delapan purnama....
Dalam syukur....
Yang menjadi penanda dari sebuah awal kehidupan baru....





Dedicated  for My lil angel ... it was Blessing ....
*** Els






















Sebuah cerita jari

Jari ini bekata
Tentang jiwa jiwa luka
Bukan lepuhan kertas atau abu 
Tapi rasa
Rasa yang terpatahkan waktu
Yang terhempas masa
Dan berhamburan menutupi langit 
Langit langit redup terseret magrib
Langit langit gelap terkubur malam
malam yang menyisakan kerlip bintang
Satu saja...
Tapi mampu melengkungkan senyum dari siluet sabit

Jari ini berkata
Tentang Jiwa jiwa lara
Yang terus mengembara
Membelah malam dengan sayapnya
Menutup hari dengan mimpinya
Mengusap hujan dengan pelanginya
Membuang bagian gelap dengan fajarnya
Menepikan cerita dengan gunungannya
Lalu tidur 

Jari ini berkata 
Tentang pelangi yang meninggalkan warna dalam gaunnya



*** Els


Senin, 08 Agustus 2016

Sajak Sang Hawa

Sajak ini hanya sebuah kumpulan rasa
Rasa yang tak bisa dikatkan hawa kepada adam
Yaa... hawa kepada adam.

Sajak ini hanya ingin melukis sebait cinta
Cinta yang tak sanggup dilukiskan oleh hawa kepada adam
Yaa... hawa kepada adam

Adalah aku, 
Perempuan yang menjadi tulang rusuk mu kini...
Aku sering mengeras seperti halnya tulang
Aku sering tak lurus seperti halnya rusuk
Tapi ketahuilah, aku sanggup menjaga organ organ pentingmu
Jantungmu....
Hatimu....
Dan juga rasa yang terendap di antara ke duanya...
Yaitu Cinta...

Adalah aku,
Perempuan yang menjadi selimutmu kini
Aku sering melepuh seperti halnya kain selimut
Aku sering lusuh seperti halnya bahan kain selimutmu
Tapi ketahuilah...
Rahimku...
Tanganku ...
Teramat kokoh..
Sanggup menopang benih cinta sampai sembilan bulan lamanya...
Hingga tak takut bergelut dengan maut sekalipun
Demi mengeluarkan benih cinta yang kamu semaikan sebelumnya...

Adalah aku,
Perempuan yang sangat mencintamu dengan caraku...
Perempuan yang tak pernah berhenti memujamu 
Perempuan yang takluk dengan semua titah rajaku...
Yaa... raja hatiku...
dan itu , 
Kamu....


*** Els