Senin, 20 Februari 2017

Tuan cinta

Cinta tak pernah beranjak dari tuannya
Dari rasa yang membuatnya serasa surga
Dari tangan yang menggengam erat
Dari mata yang menatap teduh
Dari bahu yang menguat penuh
Luruh

Cinta tak pernah berkedip dari tatapnya
Dari lirikan halus yang menghujam jantung
Dari tatap yang mengacak rasa
Dari kerling yang tercuri diam diam
Dari kedipan yang berkata iya
Saya


Cinta tak pernah pergi dari tuannya
Saat senja mulai merangkak pergi 
Meninggal lembayung yang tergantung di ujung Maghrib

Rabu, 01 Februari 2017

Perempuan Dalam Penantian

Perempuan itu terduduk....
Dalam harap yang tak pernah putus selama tiga puluh enam purnama
Melewati tiap pergantian purnama dengan harap cemas
Usianya sudah tidak muda,
Terlihat dari garis garis halus yang mulai bertengger di kulit wajahnya.
Tidak jelas memang, tetapi sesekali berkaca saja , kerutan itu mulai mengingatkan 
" Dia tidak muda lagi "

Perempuan itu tertunduk...
Dalam ribuan tasbih dan tahmid yang tak pernah putus selama tiga puluh enam purnama
Ada rasa takut tersirat dalam dadanya
Tidak kentara memang, tapi cemas itu seolah mengingatkan
" Dia tidak tenang lagi "

Perempuan itu bergerak.....
Dalam ratusan ikhtiar yang tak pernah putus selama tiga puluh enam purnama
Ada rasa was was di sana
Tidak jelas memang, tapi mata lelah dalam tatapan nya seolah mengingatkan
" Dia tidak sabar lagi "

Sampai....
Pada hari itu...
Hari dimana perempuan sudah mulai lelah mengejar mimpinya...
Hari dimana dia sudah lupa dengan apa yang diikhtiarkannya
Ketika tiga puluh enam purnama sudah mulai melesapkan rindunya
Sesuatu seolah mengingatkan 
" Mimpinya sudah bersemayam dalam rahimnya "

Perempuan itu bersorak....
Tenggelam dalam ratusan ribu Tahmid yang bukan akhir dari cinta
Dalam ratusan butir air mata yang ia bagi dengan penjaganya
Dalam dekapan hangat yang selalu menjadi tempat terindah selama seratus enam puluh delapan purnama....
Dalam syukur....
Yang menjadi penanda dari sebuah awal kehidupan baru....





Dedicated  for My lil angel ... it was Blessing ....
*** Els






















Sebuah cerita jari

Jari ini bekata
Tentang jiwa jiwa luka
Bukan lepuhan kertas atau abu 
Tapi rasa
Rasa yang terpatahkan waktu
Yang terhempas masa
Dan berhamburan menutupi langit 
Langit langit redup terseret magrib
Langit langit gelap terkubur malam
malam yang menyisakan kerlip bintang
Satu saja...
Tapi mampu melengkungkan senyum dari siluet sabit

Jari ini berkata
Tentang Jiwa jiwa lara
Yang terus mengembara
Membelah malam dengan sayapnya
Menutup hari dengan mimpinya
Mengusap hujan dengan pelanginya
Membuang bagian gelap dengan fajarnya
Menepikan cerita dengan gunungannya
Lalu tidur 

Jari ini berkata 
Tentang pelangi yang meninggalkan warna dalam gaunnya



*** Els