Jumat, 11 November 2011

MoZaiK CiNTa SaNG NaWaLa

      Delapan putaran matahari yang berevolusi pada setiap porosnya, membutku tersadar betapa lelaki ini teramat istimewa. Membuat satu windu itu terasa satu menit , dan selama itu aku merasa menjadi Mahadewi abadi dalam kastil cintanya. Sebetulnya tidak perlu aku ceritakan, betapa lelaki ini bisa menjadi apapun di mataku. Tak banyak keluh, tak banyak tuntutan dan tak banyak yang harus aku sembunyikan. Dimataku dia menjadi apa adanya, pun di matanya aku menjadi apa adanya. tanpa topeng yang harus aku pasang demi menyembunyikan borok rupaku.Di matanya aku temukan telaga yang teramat luas dimana aku bebas melepas dahaga, berenang dengan bebasnya lalu menyelami setiap segar molekul air yang terpancar dari setiap mata air cintamu. Bukan sekedar kata jiga aku menulis semuanya, pun bukan gombal yang aku tujukan untuknya, jika mata dan hatiku tertunduk untuk hanya mengingatnya saja. 

     Delapan putaran matahari akupun terus meniti hari demi hari . Seperti semula, aku adalah perempuan yang setia pada sebuah cinta.... Aku mungkin pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi tidak sekuat ini, dan tak sehebat ini. Sebuah cinta yang berawal dari sebuah kekaguman. Kekaguman akan kata-kata yang membuatku gerimis, kekaguman akan kearifan yang membuatku tersadar, bahwa aku jatuh cinta sebelum aku bertemu denganya. Kekaguman akan kedewasaan yang membuatku terasa aman dan nyaman jika aku berkonsultasi dan berbagi berbagai hal tentang hidup dan kehidupan. Hingga aku sampai pada sebuah kesimpulan , bahwa dialah imam sejatiku, tepatnya pada beberapa waktu sekitar lima putaran bulan berotasi pada porosnya. Suatu hari setelah sholat , tiba-tiba terbias rupanya, dan aku berdoa " Rabb.. jika memang dia seseorang yang engkau utus untuk menjadi imam dan nahkodaku, maka dekatkanlah, permudahlah untuk setiap persatuan kami ". beberapa detik dari itu, Alloh menjawab do'aku dengan sebuah sms  " Rabb... jika perempuan ini adalah seseorang yang Kau tititpkan dalam sisa usiaku untuk menajdi pelengkapku, maka dekatkanlah.. satukan kami dalam Taqorrub Pada Mu ", dan disela gerimis hatiku, aku hanya mampu membalas dengan satu kata " Insya Alloh "
Dan jawaban itu cukup sebagai pendeklarasian cinta kami, yang terungkapkan secara dewasa dan indah.

       Delapan putaran matahari yang berevolusi pada porosnya terhenti sejenak di putaran ke lima. Dimana Cinta bertasbih degan indahnya, dimana magnet yang saling tarik menarik itu semakin kuat, Yang terserakpun terhimpun dalam sebuah ijab qabul yang suci. Beda melesap, membaur dan membias menjadi pelangi yang sangat indah. " Aku cinta kau hari ini, kemarin dan kemudian hari " itulah yang terjadi 2 November tiga tahun yang lalu, di mana pendeklarasian cinta itu mengubah dia yang awalnya haram, menjadi halal untuk ku, pun sebaliknya. Saujana pun tergelar, sauh terpancang dan bakhtera perjalanan perahu kitapun di mulai. Membelah lautan lepas yang ganas, yang menyimpan banyak mysteri dalam setiap episodenya. Entah ombak, entah karang, entah gunung es atau bahkan kawanan perompak yang akan menyandra kami dengan setiap bujuk rayu nya. Entahlah... yang jelas, kami hanya berbekal cinta dan niat suci, kami hanya menyandarkan tali jangkar kami terhadap qadho dan Qodar disela Roja akan berkah dan Ridho Nya, yaahh.. itu saja yang kami punya, hingga perjalanan Kapal kami genap pada 3 kali perputaran matahari berevolusi pada porosnya. Dan itu serasa sekejap. Meski sempit dan pahit kadang menyapa kami dengan sesaknya, tapi dia , sang lelaki istimewa itu selalu mengubah maind set ku menjadi sesuatu yang positif. Mengubah pikiran sempit menjadi luas dengan berbagai pintu-pintu keluar seperti halnya bangunan coloseum yang berada di italia, " Begitu banyak jalan menuju roma" dan tergantung dari sudut mana kita melihat dan memulai. Lelaki itu juga menjadi air untuk setiap letupan api ku, dan menjadi imam terbaik untuk ku dan Noyya anaku. Terlalu hyperbol mungkin jika aku tulis semua yang terjadi pada perjalanan aku tentang nya, dan di usia pernikahan kami yang ke tiga ini, aku hanya ingin tetap berkata : " Aku Cinta Kau Hari Ini, kemarin, Dan Untuk Kemudian Hari ".








**** Tulisan ini dedicated for My Lovely Husby " SIHABUDIN JAMIL ". Terima kasih untuk lautan   cintamu yang tak bertepi, cinta yang tak bersyarat, cinta yang menerimaku apa adanya. Terima kasih untuk setiap air untuk semua letupan apiku, Terima kasih untuk semua hal positif yang kau tanamkan untuk ku dan putri kita Noyya, aku tidak bisa membalasnya, selain dengan kata-kata sederhana yang tak sempat tersampaikan api pada kayu hingga mengabu,  " Aku Cinta Kau Hari Ini, Kemarin Dan Untuk Kemudian Hari "

                         Happy aniversary 4 us, Wish Alloh Always Blessing our Mariage

Tidak ada komentar:

Posting Komentar