Mendengarkan seorang sahabat curhat, adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Dimana aku bisa lebih memahami, menggali dan mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga yang bisa aku ambil hikmahnya dan menyimpulkan sesuatu sebagai wujud kegemaranku berteori.
Kemarin, seorang sahabat terbaikku menumpahkan sesuatu yang membuat aku juga seolah terbawa ceritanya. Ketika bermula dia mempunyai sahabat laki-laki yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. Ketika aku menuliskan ke dalam blog ini, bukan berarti ingin memblow up atau menguak privacy sahabat, sekedar share dengan rekan-rekan yang mungkin pernah atau sedang mengalami pengalaman yang serupa. Sama sekali tidak ada tendensi untuk mendeskriditkan seseorang. Hanya sekedar mengasah hoby ku menuangakan cerita yang aku dengar, dan metransformasikannya ke dalam sebuah tulisan.
Cerita bermula ketika beberapa tahun ke belakang, sahabat perempuanku mempunyai sahabat laki-laki yang karena lebih muda dia anggap sebagai sodaranya sendiri. layaknya seorang sahabat atau mungkin seorang kaka perempuan ke adiknya, sahabatku ini selalu mensupport segala hal yang menyangkut kehidupan sahabatnya tadi. Memang, beberapa penggalan waktu selalu mempertemukan mereka dalam sebuah komunitas, dan semua berjalan biasa saja, tidak ada sesuatu yang dianggap istimewa. Selepas SMA, sahabatkupun terpisah denganya. Remaja itu lalu pergi ke Bandung untuk meneruskan studynya. Sementara sahabatkupun meneruskan studynya di Tasikmalaya dan semakin larut dengan hoby barunya. Di pertengahan waktu setelah sekian discomunikasi, tiba-tiba laki-laki sahabatnya itu menelpon, menayakan kabar, dan kembali berbagi cerita tentang banyak hal. Dari saat itupun komunikasi kembali berjalan dengan intensnya. tapi masih tetep dengan frame sahabat, tanpa tendensi rasa apa-apa. Setiap lelaki itu pulang ke Tasikmalaya, pasti selalu menyempatkan menelpon dalam hitungan jam yang tak terputus, sampe pada suatu ketika, sahabat perempuanku itu bertanya spontan.
" Gimana, Kamu udah punya pacar belom??? mahasiswi bandung kan ok-ok ? "
tiba-tiba sahabat laki-lakinya spontan menjawab ,
" Nggak ah, hati saya udah terdampar sama orang tasik, di telpon ini "
sahabatkupun berceloteh dengan ringannya
" ahhh...... masa seeehhh.... anak kecil juga. berani gitu menembak kakaknya ?? "
laki-laki itupun tegas menjawab
" Beraniiii.... akan saya buktikaann... "
sahabatku menimpali dengan guyonan
" nggak percaya deeehhh.... buat ku kamu tetep sosok anak kecil, hahhahahahaha ".
Selepas percakapan di telpon itu, beberpa waktu pun berlalu, komunikasi antara sahabatku dengan sahabat lelakinya pun terputus. Nggak pernah ada kabar, baik berupa sms ataupun telpon. mungkin karena pada suatu hari sahabatku menceritakan kejadian itu kepada sahabat perempuannya yang lain yang tak bukan masih sahabat dari laki-laki itu. dan omongan itu mungkin dengan tidak sengaja sampe pula di telinga laki-laki itu. Waktu pun berjalan dengan cepatnya, sahabatku nggak pernah inget atau engeh dengan sahabat laki-lakinya. Kalopun tidak ada komunikasi mungkin karena dia terlalu sibuk dengan kegiatannya. Karena yang dia tau, sahabat laki-lakinya itu selalu aktif dalam kegiatan kerohisan di salah satu perguruan tinggi. Hingga ketika ada perubahan sikap pun sahabatku mengerti, mungkin karena laki-laki itu ingin lebih menjaga hijab. Karena pada suatu ketika dia pernah bicara
" Tidak ada kamus pacaran dalam hidup saya, kalopun saya suka atau cinta dengan seseorang, saya akan langsung melamarnya dalam waktu yang tepat ." dan sahabatkupun langsung mengiyakan dengan semanngat.
Pun mungkin dia telah konsentrasi dengan tesis yang harus segera dirampungkan, so, sahabat perempuanku ku mengapologize semua kehilangan itu. Sampai pada suatu hari sahabatku ini bermaksud mengikat janji dengan kekasihnya. Sahabat perempuanku ku pun sibuk mencari - cari data nama-nama teman yang akan dia undang. Dan dia teringat dengan sahabat laki-lakinya itu. Dia mengobrak-abrik berkas menelpon setipa nomor HP yang pernah dia tau, namun semuanya tidak aktif. termasuk ke nomor bandung yang sering dia menelpon tempat dia ngekost, hasilnya nihil. sampai sahabatku menemukan nomor telpon rumahnya yang di tasik, sahabatku pun langsung menelpon, dan yang ngangkat keluarganya. sahabatkupun menanyakan nomor HP sahabat laki-lakiny ayang masih aktif dan langsung menelponya. Namun hasilnya, tidak diangkat, hingga akhirnya sahabatkupun berinisiatif untuk mengundang by sms, dengan harapan, suatu waktu ketika dia tidak sibuk, dia bisa membacanya. Namun setelah sms terkirim, sms pun tak berbalas juga. Sahabat perempuanku sempet bertanya-tanya, kenapa?? tapi tidak begitu dipikirkan dengan husnudzonnya mungkin sahabt laki-lakinya itu sibuk. Dan sahabat perempuanku pun menikah.
Waktupun terus berlalu, dan semenjak pernikahan tersebut tidak ada satu kabarpun yang mengabarkan sahabatnya itu. sampai pada suatu hari, sahabatku dipertemukan dengan sahabatnya dengan ketidaksengajaan. Sebuah pekerjaan yang membawa sahabat perempuanku bertemu dengan sahabatnya via telpon. Sahabat perempuanku pun merasa senang, tanpa sungkan dia langsung membrondong dengan berbagai pertanyaan.
" Hey.. kemena aja, kenapa nggak dateng ke nikahan ?? sms nggak dibales juga "
Sahabat laki-lakinya pun cuman tersenyum kecil dari ujung gagang telpon. dia cuma menjawab
" Nggak apa-apa, maaf ya. maaf banget "
" Ya, udah nggak apa-apa koq. eh saya sedang hamil lho , doain ya "
" owh ya, selamat ya teh "
" iya makasi . ya udah atuh ya, sok sing sukses, klo mau komplen jangan sungkan2 "
Teleponpun terputus. Namun setelah itu, hp sahabat perempuanku bergetar. sebuah sms pun diterima. langsung dibuka dan dibaca
" Teh, maaf saya dulu nggak bales sms nya, pun nggak dateng waktu pernikahannya. sebetulnya saya kecewa, kecewa dengan keadaan, kecewa dengan diri sendiri. Tanpa teteh sadari, saya sudah menaruh niat sejak lama. Namaun selalu saya urungkan karena saya selalu dianggap anak kecil. Sampai saya meneruskan studi saya demi untuk menjadi sesuatu yang layak dan pantas. Bertahun-tahun saya simpan niat itu, samapai pada saat ketika pas pernikahan teteh, saya sudah siapkan diri untuk melamar. karena saat itu saya sudah merampungkan tesis saya, dan sebentar lagi di wisuda sebagai magister. Dan setelah lulus, saya berniat menikahi "
Seperti sebuah geledek, sahabat perempuanku hanya mampu termenung, memaknai kata demi kata yang ada di sms. Masih terkesiap dan kaget dengan semua isinya. Terharu dan nggak percaya. Seorang laki-laki yang sudah dia anggap adiknya sendiri ternyata mempunyai rasa sedalam itu, dan selama itu dia memendamnya. Tanpa sadar, sahabat perempuanku pun membalas nya .
" Terima kasih untuk niat nya. saya sama sekali tidak pernah menyangka dan tidak pernah tau. Tapi kenapa tidak ngobrol dari awal?? jauh sebelum semua ini terjadi?? Tapi sudahlah, semua sudah menjadi taqdir, saya sudah punya kehidupan yang saya anggap terbaik dan saya anggap surga. satu pesan saya, janganlah terlalu larut dalam bayang2 yang tidak mungkin untuk diwujudkan, teruskan hidupmu, dan satu hal lagi. Cinta adalah sebuah hak yang paling hakiki yang dianugrahkan Alloh dalam bentuk perasaan yang maha indah. Jika kamu menemukan seseorang yang memeang kamu cintai dan berharap dia untuk menjadi pasanganmu, maka katakanlah, dan kejarlah, sebelum semuanya terlambat dan berakhir dengan penyesalan. Seorang perempuan itu hanya mampu menunggu. Maka kejarlah dia, tundukan hatinya , dan buat dia merasa dewi untuk meampung semua tumpahan cintamu. dan waktu hanya akan menjadi pedang untuk kediamanmu. Belum tentu waktu yang kamu anggap sempurna akan menjadi sempurna seperti yang kamu rencanakan. "
Sms pun berbalas
" Ya saya mengerti, dan setelah saya ungkapkan semua ini, saya merasa sedikit lega. Saya yakin cinta sejati tidak harus memiliki. Cukup menasbihkan dalam hati untuk merasa bahagia melihat yang saya cintai bahagia."
" Ya Syukurlah kalau kamu sudah bisa meneima. Saya doakan, kamu mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari saya. Dan sekali lagi, Jika kamu mencintai seseorang dan ingin manjadikannya pasangan, maka katakanlah... kejarlaaaahh.... "
" Ya, makasi teh. ammiinn... saya akan coba. saya akan mengejar mimpi saya, Melupakan semua cinta yang bertahun-tahun saya pendam dan saya sembunyikan. Makasi ya teh... "
Sejak saat itu, sahabat laki-lakinya pun bangkit dengan kekuatan dan serpihan puing yang tersisa. Sampai pada suatu ketika, Sahabat perempuan saya menemukannya kembali di sebuah situs jejaring social, Dan sahabat perempuan saya pun merasa gembira ketika mambaca sebuah statusnya yang mengabarkan bahwa dia akan segera menikah. Menemukan belahan jiwa yang seharusnya dia. Tapi sahabat perempuanku segera menepisnya. Karena tidak sedikitpun cinta yang teralokasikan untuk sahabatnya. Hanya cinta dan sayang seorang sahabat..... dan dia yakin bahwa cintanya hanya dia dedikasikan untuk raja bagi hidupnya yang tak lain suaminya sendiri. Dan seperti itu pula kisah yang dia curhatkan dengan penuh haru, dan akupun ikut terharu. Satu mungkin yang bisa aku simpulkan dan ambil hikmah dari curhatan sahabatku ini bahwa
" Jika cinta memanggilmu, maka katakanlah, dan kejarlah sebelum semua terlambat. Dan kalaupun terlambat, maka ikhlaskanlah. Karena cinta sejati tidak harus memiliki. "
* True Story base on my friend tale , Just Enjoy Ur life sista....... ^_*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar