Hari ke tiga Iedul Fitri, lagi-lagi dikasi pelajaan yang sangat berharga. Semakin meyakini akan makna " TAQDIR ", memaknai betapa lemahnya kita sebagai manusia dibanding dengan kekuasaan Ny, dan semakin mengerti bahwa kita hanya bisa berencana, selanjutnya Taqdir Alloh lah yang bicara.
Suatu pagi di sudut lorong sebuah Rumah sakit, aku menyengaja datang untuk menjenguk sepupuku yang tiba-tiba drop setelah sebelumnya menjalani pengobatan untuk penyakit Livernya yang tinggal selangkah lai untuk negatif bebas dari hepatitis. Ku lihat dia begitu lemah, tergolek dengan infus dan cartreter yang terpasang untuk memudahkannya buang air kecil. matanya tertutup, sesekali dia menggerakan tanganya seperti terlihat kejang-kejang. Entahlah dadaku berkecamuk gak karuan saat melihat seorang Ibu di sampingnya yang berkata sambil terisak
" Dekk... sing sehat nyaa... hampura mamah teu bisa nulungan, teu bisa ngaringankeun kanyeri dede. Sok istighfar dek.. mamah yakin , dede masih tiasa ningali jeung denger. Sok berjuang Dek.... lawan penyakitnya. Ini ada teh Evi nengok Dek. Astagfirullohal 'adziimm..... Alloh.. Allohh... ".
Tanpa dikomando, dadakupun naik perlahan, dan mataku terasa pediiihh.. serasa teririss.. Air matapun menyeruak dari kelopak mata, yang berujung segukan. sambil mencoba menguatkan
" Dek.. teteh yakin dedek anak soleh, Ayo dek berjuang, insya Alloh dede sehat lagi ingat 7 hari lagi kita ngumpul Dek.. "
Tapi yang tergolek sama masih tetap tertidur dengan nafas yang tersengal. Sesekali masih terlihat gerakan tangan, meski kakinya terasa sudah dingin. Sedikit ada firasat tidak enak ketika melihat wajahnya yang semakin memucat, giginya yang seolah terkatup dan terkunci. Makanan pun sudah tidak bisa lagi masuk lewat mulutnya. Ada firasat yang tidak bisa aku ungkapkan pada saat itu, seolah merasakan ini adalah terakhir kali saya bisa melihat wajahnya. Seketika , aku mengeluarkan Handphone, dan mengambil moment yang sebetulnya tidak etis aku abadikan. Moment dimana saudaraku tergolek lemas dengan seorang Ibu yang tertangis dan tak henti melantunkan asma Alloh. Tapi tanganku berkata lain, seraya menekan tombol kamera, aku merasa ini adalah moment terakhir. Dua buah gambar berhasil aku abadikan. Entahlah benar atau tidak, yang pasti aku merasa suatu saat semua akan mengenang foto tersebut. Tidak bisa lama aku di sana, karena kewajibanku yang lain telah meantiku. Aku harus berangkat kerja. Aku pun pamit, dan mengelus tangan dan dahinya yang seolah mulai dingin.....
" Syafakalloh..... insya Alloh dedek sehat, berjuaang ya.... " seraya ku bisikan kata-kata itu ke kupingnya.
Akupun keluar dengan megang erat -erat tangan suamiku, Entahlah... saat-saat seperti itu hanya tangan suamiku yang membuat aku selalu sedikit nyaman. Dengan masih berkaca-kaca dan perasaan yang tak karuan. Haru, sedih seolah bercampur manjadi satu kesatuan. Suamiku menggandengku kembali mnyusuri lorong rumah sakit yang begitu ramai dengan pengunjung. Di luar di deretan kursi buat pengunjung yang nunggu, aku melihat sesosok pria yang termenung. Tatapan matanya kosong seolah menggambarkan hatinya yang hampa. Riak wajahnya memendam kesedihan yang teramat sangat. Sesaat kemudian aku menyapanya.
" Calon nya dek shinta ya?? "
" Iya teh " dia menjawab dengan singkat.
" Sabar ya A... semoga tidak seperti yang kita bayangkan, semoga ad mukjizat untuk menyembuhkan si dede " tegasku mencoba menenangkan.
' Amiin.. Insya Alloh, semoga teh. Tapi apapun, saya udah mencoba bersiap ikhlas teh " jawabnya terbata, seolah menahan sesuatu yang berat ditenggorokannya.
Betapa tidak, dia adalah laki-laki yang seharusanya sedang berbahagia menyambut hari yang paling diimpikannya. Tujuh hari lagi, dia akan menyunting kekasihnya yang amat ia sayangi. tujuh hari lagi ia akan menjadi suami dari perempuan yang selama ini ia jaga. Ada kehampaan yang tak terbendung ketika melihat keadaan perempuan itu tergolek lemah dan tak sadar sejak ia di bawa ke rumah sakit. Terlebih ketika dia mendengar perkataaan dokter yang menangani untuk tidak meninggalkan pasien, dan selalu terjaga.
" Kita hanya bisa berusaha, Tapi Allohlah sang Maha pemutus segalanya. Mudah-mudahan yang terabaik. jangan ditinggalkan ya, deketin sambil ngaji " itu saran dari dokter kemarin ketika aku menjenguknya untuk pertama kali.
Yaaa.... Tujuh hari lagi pasangan itu akan elangsungkan pernikahan. hari yang paling diidam-idamkan hampir oleh setiap orang. Aku dapat merasakan betapa berkecamuknya hati laki-laki itu, ketika sampai pada vonis yang tidak terlalu menggembirakan dari dokter. Kehampaan, kehilangan dan berbagai rasa yang terus menggerogoti pertahanan emosinya sebgai lelaki membuat laki-laki itu terdiam dan terisak di depa kami. Tidak ada bahasa yang mampu mendeskripsikan dan menggambarkan hancur leburnya perasaannya. Aku faham dan sangat Faham. Karena akupun pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicintai. Terlebih ini, kemungkinan kehilangan dalam bentuk permanen dimana langsung terpisahkan dimensi yang maha sempurna. Di mana mungkin tidak ada kesempatan lagi untuk meminta maaf, untuk menatapnya , atau sekedar bergumam melihatnya dari kejauhan. sekali lagi aku sangat faham.
" Ya sudah, mohon maaf kita pulang dulu " Suara berat suamiku memecahkan lamunan kami masing-masing. " Tolong jaga si dede sama si Bibi ya... kabari kami jika ada kabar baik , kami pamit karena harus kerja." suamiku menambahkan.
" Sabar ya ... sabar... apapun mudah-mudahan itu yang terbaik." akupun menambahkan.
" Iya A.. Teh... hatur nuhun ." jawabnya singkat
Kamipun kembali menyusuri lorong rumah sakit dan memilih mengikuti panah yang bertuliskan Exit untuk segera keluar dari rumah sakit itu. Kamipun kembali ke aktivitas kami masing-masing, dengan kerjaan kami masing-masing. Suamiku seperti biasa mengantarku denga n sabarnya menuju kantor. Dan akupun kembali hanyut dalam pekerjaanku dengan perasaan yang masih was-was dan sedikit gak semangat, walau sesekali aku digodai temen sekerjaku dengan celotehan-celoteahn lucu.
menit demi menitpun berlalu, jam pun berganti sampe ketika menjelang sore, Hp ku berdering. aku mendapatkan telpon dari rumah. Sebenarnya feelingku sudah mulai tidak enak, ketika aku mengangkat, ada suara yang terisak di sana.
" Tetehh... cepet pulaaang.... Dek sinta pupuss.... " suara adek ku dari seberang.
" Innalillahii.... " aku pun berteriak seraya terisak. " Iya Dek teteh pulang sekarang ".
Akupun segera menelpon suamiku, dan langsung izin ke atasanku. Dengan masih terisak dan perasaan yang tidak karuan aku pun ke luar. Di luar, suamiku sudah menunggu, dan kamipun segera pulang. Setibanya di rumah, aku langsung menuu rumah duka bibiku yang tidak lain di belakang rumah. Ketika sampai di rumah bibi, tangsispun pecah. Tangisa yang berbaur dari semua yang berada di rumah. Betapa tidak, seahrusnya kami kumpul dalam suasana indah balakecrakan untuk syukuran pernikahan, tapi kini, kami harus berkumpul dalam suasana duka kematian. Yaaaa..... betapapun kami sudah merencanakan dengan matang, dan betapapun awalasnya sehat wal'afiat ketika belum takdir, Alllohpun Yang Maha berkehendak. Ambulance pun tiba, tangis kembali pecah membahana. Ku lihat bibiku yang berkali-kali harus tidak sadarkan diri. dan kamipun bersiap untuk mengurusi Jenazah . Memandikan, mengkafani, menyolatkan sampai menguburkan jenazah.
Sepulang dari menguburkan jenazah kamipun kembali berkumpul sejenak, masih dalam suasana yang teramat hening. Malampun semakin larut, kamipun pamit dan pulang ke rumah masing-masing. Dan selama perjalanan pulang, tiba-tiba si Aby berseloroh
" allohummaghfirlahaa warhamhaa.. wa"aafihi Wa'fu'anhaa..... Dek, Pelaminan terindahmu adalah di sisi Alloh. "
Akupun melirik sejenak dan kembali tenggelam dalam duka dan semakin meresapi arti sebuah pribahasa
" Kita baru merasa kehilangan, setelah benar-benar kehilangan "
Selamat jalan Dek...... :(
Tidak ada komentar:
Posting Komentar